BreakFasT....:

Selamat bergabung Dalam Forum ini. Lebih sering akan lebih menyenangkan. Lebih tanggap akan lebih terasa manfaatnya. Saling Berbagi dengan apa yang masing-masing kita miliki disini dengn ku dan dengan mereka yang sama-sama haus akan wacana dan hidup yang damai...

Sabtu, 18 April 2009

“kampus”

MUHAMMADIYAH

(Masih Layak-kah menjadi “kampus” ku)

Perubahan, dari mana kita mulai…

Ini bukan masalah dari mana kata itu di ambil. Tapi, dari kata itu bagai mana kita memahami dan memaknainya. Kalau-pun ada istilah “lain dulu lain sekarang”, begitu-pun dengan perubahan bukan masalah dulu atau sekarang. Tetapi, sudah sejauh mana dengan kata itu kita memiliki semangat yang hebat untuk melakukan sebuah perubahan.

Coretan liar ini bukan di tujukan untuk membuat sebagian orang atau kelompok merasa tersakiti, akan tetapi sebuah coretan ini ditujukan bagi mereka yang masih menginginkan Muhammadiyah ada pada “syirat” yang “al-mustaqim” buakan pada “ syirat” yang “ ad-zdulmi”. Satu hal lagi, coretan dinding (meminjam salah satu lyric Kang Iwan fals dalam salah satu lagunya) ini bukan untuk menggurui, namun hanya sekedar mengingatkan saja pada mereka tentang salah satu prinsip yang menjadi spirit lembaga ini meyebar dan disebarkan di tengah umat. “amar ma’ruf nahyil munkar”. Ini lah salah satu prinsip yang kami berdo’a mudah-mudahan masih dipegang oleh mereka yang merasa dirinya Muhammadiyah tulen alias asli banget gitcu lhoc. Yang artinya kurang lebih adalah “menyeru (memerintah) pada kebaikan dan mencegah (melarang) kemunkaran (kejelekan/kemaksiatan/ kedoliman).

Alangkah tidak mungkin alias mustahilnya kita mengangkat Pak Harfan atau Bu Mus (Tokoh Kepala dan guru sekolah dalam Laskar Pelangi) sebagi Rektor atau Dekan di kampus ini. Yang mana mereka menjalankan roda birokratis sekolah dengan amat bijak sana dan pengertian pada anak didiknya (Mahasiswa-lah kalau di temapt kita). Kenapa..? Ya, karena-ekarena jangankan memilih Rector atau Dekan…keberadaan mahasiswa-nya saja tidak di anggap. Bagai mana mahasiswa ikut serta dalam memilih atau boleh berpartisipasi memeilih pemimpinnya, “Bapaknya” saja sudah tidak mengakui bahwa dia punya anak…kan lucu alias “TOLDO”. Artinya, mahasiswa jangn mimpi kalau kalian tidak di ikut sertakan memilih dekan, dianggap mahasiswa saja belum tentu alias tidak, nyahoo… Sok mikir atuh sedikit mah, muali dari hal kecil ini saja suara kita sudah gak di dengar, apalagi di ikut sertakan dalam membuat kebijakan, imposible mene atuh euy.

Pemimpin itu bukan sekedar memimpin, tapi harus siap di pimpin. Kalau bapak atau ibu adalah pemimpin kami, maka amanat adalah yang memimpin kalian. Kalu bapak/ibu adalah orang yang beragama, maka berilah kami pemahaman dengan contoh, dengan ucapan dan perbuatan bukan dengan omong kosong dan janji palsu. Kami tidak butuh bualan atau janji-janji, yang kami butuh adalah bukti yang akan membuktikan bahwa kalian pemimpin bukan pembohong bagi kami yang masih menjadi murid mu. Kalau “kalian” sudah tidak mendengar, sipa lagi yang akan mendengarkan kami.

Untuk Dosen dan Dosinah (Mudarris dan mudarrisah), bagi kami kalian bukan hanya sekedar guru tapi pembimbing dan bukan pembentak. Di hati dan lidah-mu kami berharap (lagi lagi di copot dari Liriknya kang Iwan Fals), tolong sampaikan salam kami pada mereka dan lantanglah bicara bahwa kami minta “ikutkan kami dalm memilih pemimpin kami”. Agar kami tidak di pimpin oleh orang yang tidak kami kenal…Dan bagi mahasiswa/mahasiswi mulailah berfikir, kenapa kita tidak di perbolehkan ikut memilih mereka. Padahal merekalah yang akan menjadi pemimpin kita, apa mau kita punya “Bapak” yang tidak kita kenal…dan apa mau kita di “tirikan” di rumah kita sendiri. Terima kasih sudah membaca coretan ini…

By = uEnk si Gondrong