BreakFasT....:

Selamat bergabung Dalam Forum ini. Lebih sering akan lebih menyenangkan. Lebih tanggap akan lebih terasa manfaatnya. Saling Berbagi dengan apa yang masing-masing kita miliki disini dengn ku dan dengan mereka yang sama-sama haus akan wacana dan hidup yang damai...

Minggu, 12 April 2009

….Sebagian Telah Kehilangan…

April 10, 009

Sudah jelas aku kesal. Aku kesal bukan karena mereka yang tak mampu membantu ku. Aku hanya kesal karena aku tidak menyadari akan penyesalan yang amat terlambat datang. Terkadang aku ingin menanyakan, adakah penyesalan yang datang lebih awal. Adakah sesal yang datang dengan kata permisi? Mungkin kedatangannya bukan untuk di harapkan. Kalau-pun ia datang, ia bisa kembali, dan dia bisa mampir. Tentuya tidak seorang-pun yang ingin hidup dibawah penyesalan dan pengaruhnya. Dia, mereka, dan begitu juga dengan ku yang tak ingin mengalami hal serupa. Nyata-nyata aku tak ingin meraskan kehilangan yang ketiga kalinya, bukan kedua atau pertama kalinya hal ini terjadi menyeret ku ke jurang yang sama.

Kalau-pun aku ingin marah, siapa gerangan yang hendak ingin aku marahi. Gak ada, tidak ada yang mau, dan juga kenapa aku harus marah pada mereka yang jelas-jelas tidak melakukan kesalahan, jelaas-jelas tidak tahu-menahu dengan prihal kemarahan ku. Tapi, aku tetap kesal dan sedikit marah dengan keadaan ini, dengan kenyataan yang sulit di hadapi ini. Aku butuh sesuatu yang bisa meredam semua kekesalan dan kemarahan ku yang sungguh-sungguh tidak jelas ini. Aku butuh…, jelasnya aku hanya butuh semua itu bisa kembali dan aku milikinya kembali. Itu saja…!!!

Di sana mungkin ada banyank orang yang kehilangan, dan juga mereka yang kehilangan karena di tinggalkan atau kehilangan karena mereka menjadi meras sendiri dan sebatang kara menjalani dan meengkhayalkan hidup dalam sebuah pengasingan. Aku menjadi teringat dengan sosok sahabat ku yang kini di asingkan dari bilik keramainnya. Yang ku ingat hanya sepenggal kata-katanya yang membuat ku tetap diam di jalan yang semasa waktu bersamanya sama-sama ku jalani.

Jangan pernah berhenti untuk tetap protes pada mereka yang cuma bisa bicara janji tanpa bukti. Teruslah bicara, walau-pun kini aku ditempatkan dalam jeruji besi yang melingkari gerak dan langkah kebebasan ku”.

Aku percaya dia, dan aku percaya padanya, karena dia tidak hanya bicara tapi ia buktikan apa yang dia bicarakan. Satu lagi yang kudengar dari pembicaraannya :

Kawan…( dengan tegas tangan kirinya mengepal di depan kami) jangan pernah kau turunkan kepalan tangan mu. Tinjukan-lah terus ke atas langit, hingga mereka mengerti tidak cuma mendengar, hingga mereka tahu dan tidak hanya sekedar melihat. Mreka harus terus di didik, tapi bukan sebagai murid melainkan sebagai penanggung amanat”.

Namun sayang, kini aku hanya bisa membayangkan dan menerka-nerka. Sedang apa dia sahabat ku disana, disana di dalam jeruji besi yang sedikit-pun tak punya kelayakan untuk di tempati oleh dia sahabat- ku itu. Apa ketika dia makan, dia mersakan asinnya garam dalam makanan itu..? Apa ketika dia minum, dia merasakan hausnya hilang dengan air yang ia teguk..? Apa ketika dia menyalakan sebatang rokok, di menghembuskan asap rokonya dengan penuh kenikmatan..? Apakah ketika ia tidur, ia merasakan kehangatan dari tempat tidurnya..? Dan apakah ketika ia bangun, ia bisa merasakan hangatnya mentari ketika sinarnya menyentuh kulit lembabnya..? Aku sunguh tidak bisa tepat membayangkannya. Dan yang ingin aku tahu, apa yang ia lakukan ketika menjalani hidup dari satu pagi ke pagi yang lain, dari satu siang ke siang yang lain, dan dari satu malam ke malam yang lainnya. Yang ia mampu hanya memandangi jeruji berkarat yang kini sudah menjadi hal yang biasa di matanya.

Oh…kawan, ketika malam mu yang dingin, aku pun membayangkan dingin tembok yang kau jadikan alas untuk tidur mu itu dalam pikiran ku. Ketiaka nasi cadong-mu kau makan, aku bisa membayangkan apalah rasanya nasi itu di pikiran ku. Kau memang kuat, dan kau memang tangguh kawan, belum tentu jika aku akan sekuat diri mu ketika aku mengalami hal yang sama dengan mu. Aku amat merindukan mu. Kami amat merindukan mu pulang dan keluar dri jeruji karatan itu. Di sini ada sedikit bingkisa buat mu saat kau pulang. Kami sudah menyimpan lama senyum pilu penuh kebahagiaan ini untuk mejemput kedatangan mu kelak. We are waiting here for you brother…*

Malam-malam seperti ini apalah yang kau lakukan di dalam sana dengan tetangga-teangga senasib mu. Dan apa gerangan yang mereka lakukan. Adakah mereka hanya duduk, diam, dan melamunkan apa yang sekiranya akan mereka lakukan ketika mereka lepas dari jeratan lingkaran besi berkarat itu.

Kawan…ada kalanya aku ingin bertanya, dan menanyakan sesuatu padamu. Tentang satu hal yang menjadi pertanyaan penting yang ingin aku ketahui dari mu. Adakah penyesalan yang tersirat dan melintas di benak mu, perihal kejadian yang menjadikan kau mendekam di gudang tikus itu. Apa kau menyesal telah melakukan hal yang itu berakibat kau mendekam di sana. Dan apakah aku pantas, atau salah menanyakan ini pada mu…? Aku.., aku hanya ingin melihat, dan aku… hanya ingin mendengar kau bicara. Itu saja…!!!

Kembali aku hanya bisa berharap, semoga saja apa yang telah mereka ukir, mereka torehkan, dan kau jalani jalan ini bisa menjadikan ku lebih kuat dan gigih dalm menyerukan protes-protes keras pada mereka yang hingga kini masih buta dengan apa itu amanat, buta dengan apa itu kemiskinan, buta dengan apa itu kesejahteraan, buta dengan apa itu rakyat, dan buta dengan apa itu “demokrasi” (kalau perlu).

Kawan…Mungkin sudah waktunya bagi kita untuk mengingatkan mereka akan sejarah bangsa ini di masa lalu, mungkin sudah waktunya mereka tahu apa sebenarnya yang di perjuangkan oleh para pahlawan kita dulu. Bukan berarti kita sok tahu, dan bukan pula kita sok mengerti, tapi setidaknya kita bisa memberikan apa yang kita tahu pada mereka yang belum tahu. Dan bagi mereka yang tahu, kita bisa mengajaknya untuk turut serta membangun dan menuntaskan “demokrasi” kerakyatan yang masih pincang dan prematur ini. Agar bangsa kita tidak selalu di bilang bangsa yang tidur, dan bangsa yang senag minta sana dan minta sini.*

Kutarik nafas sejenak, dalam-dalam ku hirup udara semampuku. Kembali ku hempaskan dengan penuh dan sedikit dorongan ke hampaaan. Lemas dan sedikit geram ketika mengingat dan membayangkan mu. Dengan muka lemas dan lembab berminyak, aku meluruskan kedua tangan melenturkan otot-otot di kaki ku yang sudah sedikit kejang akibat terlalu lama duduk dan membayangkan apa yang ada di pikiran ku.

Ku tarik kembali udara di sekitar ku lewat lubang hidung ku yang masih normal ini. Kuhempaskan perlahan dan sedikit bersuara..hah...hahh. Ku sandarkan kepala ku di antara tiang-tiang yang menyangga kursi bambu. Ku lihat daun-daun berjatuhan di terpa angin sore hari yang sudah mulai mendingin dan sejuk penuh kedamaian. Seakan mereka ingin menyampaikan pesan padaku tentang hidup yang tidak akan bertahan lama. Hidup yang singkat, dan umur yang amat misterius serta waktu yang amat keras kepala. Keras melebihi batu yang tak kenal kompromi apalagi bisa tawar menawar. Sedetik yang kuminta untuk kembali, itu-pun tak bisa dan tak mungkin. Begitu-pun dengan apa yang kupinta tolong waktu di ulang agar aku tidak ceroboh dengan waktu. Yang itu mengakibatkan sesuatu yang penting dalam hidup ku tidak kembali hilang. Sayang seribu sayang, yang hilang tetap hilang dan sedikit sekali keajaiban yang mungkin datang untuk mengembalikannya. Itu pun kalau Dia- menghendakinya.

Sekali lagi, memang penyesalan tak pernah datang di kemudian hari. Terlambat dan ‘selalu’ datangnya terlambat. My be, it’s me. Always come to late….!!!@@@