BreakFasT....:

Selamat bergabung Dalam Forum ini. Lebih sering akan lebih menyenangkan. Lebih tanggap akan lebih terasa manfaatnya. Saling Berbagi dengan apa yang masing-masing kita miliki disini dengn ku dan dengan mereka yang sama-sama haus akan wacana dan hidup yang damai...

Senin, 20 April 2009

"pendidikan"

KOMPETENSI YANG TIDAK KOMPETITIF

(Dilema sebuah Pendidikan)

Oleh: uEnK (collections’86)

Seperti penyakit yang tidak kunjung sembuh melihat “Pendidikan” di negeri ini. Belum juga reda trauma dari batas minimal tingkat kelulusan yang di terapkan oleh depdiknans di tahun 2008 kemarin dengan batas minimal 5,25 dari nilai rata-rata tiap mata pelajaran yang di UAN-kan. Sekarang di tahun 2009 kembali di dengungkan 5,50 batas nilai dari tiap mata pelajaran yang di UAN-kan. Entah akan berapa siswa yang menjadi stress gara-gara harus mengejar niali setinggi itu. Lantas siapa yang akan disalahkan, atau siapa yang harus bertanggung jawab?

Ada berita yang di siarkan oleh salah satu stasiun Televisi yang mengatakan bahwa seorang siswa mendadak menjadi gila gara-gara mendengar tingginya target nilai yang harus di kejar dalam UAN mendatang. Menurut hemat saya itu bukan gila, akan tetapi stress (Teralu kasar kalau di klaim GILA). Sungguh satu fenomena yang begitu janggal dengan kenyataan seperti itu. Alasan yang di kemukakan oleh pihak Dinas Pendidikan sendiri adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan dalam negeri, “ujarnya”.

Sungguh tidak habis pikir jika kita menyalahkan pihak sekolah atau guru yang memberikan pengajaran jika menemukan anak didiknya tidak berhasil mencapai target tersebut dan diponis tidak “LULUS”. Dan kemudian yang salah juga bukan model kompetensi dan standarisasi dari pendidikan yang diterapkannya kurang baik. Namun terlebih daripada system pendidikannya yang tidak punya komitmen yang jelas dengan persoalan pendidikan itu sendiri.

Ada yang “sakit” dengan pendidikan kita. Beberapa kali menggantikan model atau kurikulum pendidikan bukannya akan memperbaiki keaadaan dan mutu pendidikan. Justru malah menambah carut-marutnya eksistensi pendidikan kita. Di lingkungan sekolah sendiri, tidak hanya para murid yang kesusahan dan setress dengan kebijakan labil ini. Akan tetapi para guru yang mengajar juga ikut-ikutan setres. Kenapa, salah satunya karena mereka juga harus sigap dan siap sedia dengan apa yang akan dan harus di sampaikan pada murid-muridnya nanti. Persoalan kurikulum akan berkaitan dengan isi pelajaran yang harus di sampaikan. Mulai dari buku-buku, mengajar dan model praktek yang lainnya yang juga akan ikut-ikutan termodifikasi akibat kurikulum yang menggantikannya. Jika hal ini terjadi secara periodic dan keseringan mengganti kurikulum pendidikan, kapan para murid dan guru memiliki waktu untuk mengadaptasikan diri dengan hal-hal yang baru itu. Saya rasa bukan adaptasi yang bakal tercapai, malah beban psikologis yang akan menjangkit. Guru dan murid juga manusia, bukanlah mesin berjalan.

Di luar sekolah, siapa lagi yang akan bertambah bebannya selain para guru dan murid. Jelas, tidak lain adalah para Orang tua. Dengan bergantinya kurikulum, secara otomatis dalam beberapa hal seperti buku pada khususnya juga akan ikut terperbaharui demi mengikuti standar yang di terapkan. Fenomena ini jelas mengharus kan beberapa penerbit mendesain ulang buku-buku yang akan di edarkan demi mensuplai kebutuhan buku bagi partisipan sekolah (Murid dan guru). Efek “abnormal”-nya, para orang tua akan lebih banyak terbebani dengan hal-hal demikian. Karena kebutuhan anak-nya akan sebuah buku harus terpenuhi, dan buku yang di tinggal kan oleh para kaka kelasnya tidak lagi bisa digunakan sebagai pegangan, sebahagian. Akhirnya membeli buku baru adalah hal yang secara otomatis harus dilakukan. Ujung-ujungnya kembali para orang tua yang kena beban tambahan yang semakin berat terbebani.

Persoalan seperti ini bukan persoalan baru di tengah masyarakat kita yang kebanyakan berada di bawah garis tebal kurang mampu.Prinsip karang yang tidak lekang oleh gelombang jangan-lah di pakai dalam menghadapi persoalan masyarakat seperti ini. Harusnya “kalian” para pembuat kebijakan mesti lebih sensitif dengan persoalan-persoalan rakyat, khususnya pendidikan. Jangan buat anak sekolah sebagai kelinci percobaan, tapi buatlah mereka menjadi cerdas dengan pendidikan yang humanis dan efektif. Penerapan kurikulum baru bukan berarti salah, namun harus melihat bebrbagai aspek yang di butuhkan terkait nantinya dengan kebijakan baru itu.

Ada beberapa persoalan yang kemudian menyebabkan ketimpangan yang sangat signifikan ketika model pendidikan “Kompetensi” itu diterapkan serentak di seluruh lapisan daerah. Pertama, dari bangunan seklah itu sendiri. Masih terlalu banyaknya gedung-gedung sekolah yang sudah tidak layak lagi di sebut sekolah karena fisiknya yang sudah rentan dimakan usia. Atap yang bocor, tiang-tiang penyangga yang hampir roboh dan bagian fisik lainnya yang tidak terbiayai. Hal ini jelas akan mengganggu proses dan efektivitas belajar mengajar yang sedang berlangsung. Konsentrasi belajar mengajar malah terarahkan pada antisipasi robohnya sekolah. Begitu juga ketika hujan mengguyur, yang ada bukan belajar malah membuat situasi menjadi kacau.

Kedua, fasilitas sekolah. Kompetensi memang menjadi tujuan, namun fasilitas juga sangat menentukan. Ketika basis kompetensi menjadi metode baru dalam pendidikan yang berproses demi mencapai mutu dan kualitas pendidikan, sebuah dukungan akan fasilitas yang menjadi sarana dan prasarana terlaksananya efektivitas untuk mencetak hasil didikan yang ber-skill dan berkompeten sangat di butuhkan sekali. Permasalahan ini yang nampaknya kurang begitu di perhatikan ketika kurikulum ini serentak diterapkan di setiap lapisan. Kebutuhan akan perpustakaan, laboratorium, dan kelengkapan sekolah lainnya masih menyisakan bias yang begitu tajam antara seolah pedesaan dan sekolah yang berdomisili di tengah perkotaan. Ketimpangan ini jelas tidak akan menjadikan kompetensi yang memiliki kompetisi dan daya saing yang seimbang. Persoalan kolot ini masih menjadi kebiasaan dan belum jua terselesaian. Dimana yang banyak mendapt perhatian banyak masih selalu terpusat di perkotaan (center of atentions). Mestinya hal semacam ini sudah harus dikikis habis mengingat persoalan pendidikan bukan persoalan individu melainkan persoalan yang menyangkut kebutuhan bersama. Kalau permasalahan ini tidak bias dipenuhi, maka kalau-pun terjadi kompetisi yang di desa akan tergusur oleh sekolah-sekolah perkotaan. Hasilnya lagi-lagi kota selalu tergusur nasibnya oleh kota. Coba saja lihat dan coba bedakan kenyataan fisik dan fasilitas sekolah yang tersedia antara sekolah yang ada di perkotaan dengan sekolah yang terletak di tengah-tengah perkotaan. Kecemburuan social semacam ini pasti terjadi dan sulit di hindari.

Ketiga, guru. Hal paling sentral di antara kebutuhan-kebutuhan di atas selain murid adalah guru. Guru yang memiliki dedikasi dan loyalitas yang tinggi akan mampu mengintegrasikan antara ilmu dan kemampuannya. Kualitas guru juga di butuhkan demi mencetak hasil didikan yang bermutu bukan cuma menghasilkan lulusan saja. Persoalan lain ynag terkait dengan guru adalah tanggung jawab dan profesionalisme seorang guru. Kadang sangat di sayang-kan, ketika seorang guru yang tugasnya memberi pengarahan dengan apa yang ia ajarkan dari ilmu yang dimilikinya malah menjadikan status keguruannya sebagai pelegalitasan mencari kuntungan dari status yang di sandangnya. Etika keprofesionalan gurunya menjadi tercoreng dengan sendirinya. “Guru” itu mengajar, bukan menjual status ke”guru”-annya. Apapun alsannya seorang guru haruslah professional dengan profesi yang di sandangnya.

Mengingat polemik yang terjadi demikian, guru juga manusia yang punya segudang kebutuhan yang harus di penuhinya.Tidak bisa kita menyalahkan sepenuhnya pada sosok sang guru yang berbuat unprofessionalism. Hal lain yang perlu di lihat adalah pemeirntah ang tidak bisa memberikan tunjangan yang layak bagi para guru yang sudah begitu banyak memberikan jasanya. Seorang guru juga merupakan aspek lain yang wajib di perhatikan oleh pemerintah. Khususnya gaji guru itu sendiri. Kalau pemerintah mau jujur dengan hal ini, mestinya gaji guru lebih di perhatikan. Mengingat pentingnya persoalan pemenuhan sandang, pangan, dan papan seorang guru. Miris rasanya kalau mendengar seorang guru yang gajinya tidak pernah diterima hampir 20 tahun lamanya. Padahal guru lah yang mengantar kan kita berada di posisi kita sekarang ini. Tanpa guru entah jadi apa kita sekarang. Guru bagaikan pelita, kasihnya tulus setulus ilmu yang kita dapat sekarang. Tapia apa yang mampu kita perbuat, nasib guru begitu kurang di perhatikan oleh pemerintah. Mulai dari gaji guru yang kecil, keberadaannya pun masih banyak yang terabaikan. Wajar-wajar saja kalau banyak guru yang malas-malasan ketika mengajar. Nasib guru harus terus di perjuangkan hingga “pahlawan tanpa tanda jasa” ini hidup sejahtera.

Wacana pendidikan bukan-lah isu musiman untuk terus di perhatikan, baik oleh masyarakat atau-pun oleh pemerintah yang paling bertanggung jawab. Seharusnya kalau memang pemerintah sering berbicara pentingnya akan pendidikan, cobalah berpikir ulang agar pernyataan tidak sekedar pernyataan. Berita tidak sekedar kabar, janji tidak sekedar ucapan belaka. Anggaran pendidikan mestinya kembali di perbesar, dan jangan sampai yang ada malah tidak di implementasikan kalau memang begitu signifikan-nya pendidikan bagi bangsa ini. Negara lain sudah ada yang mencapai 40% anggaran untuk pendidikannya, kita yang masih 20% belum juga merata dan masih lambat merealisasikannya. Bangsa yang beradab adalah bangsa yang tinggi tingkat pendidikannya. Apa lagi yang mau kita dengar untuk mengatakan bahwa pendidikan begitu penting artinya. Sudah banyak contoh yang mengingatkan kita akan pentingnya sebuah nilai pendidikan. Tinggal kita, kapan akan memulai perjalanan mengubah bangsa primitive menjadi bangsa yang modern dengan pendidikan yang sesuai dengan budaya bangsa kita sendidri.

Sabtu, 18 April 2009

“kampus”

MUHAMMADIYAH

(Masih Layak-kah menjadi “kampus” ku)

Perubahan, dari mana kita mulai…

Ini bukan masalah dari mana kata itu di ambil. Tapi, dari kata itu bagai mana kita memahami dan memaknainya. Kalau-pun ada istilah “lain dulu lain sekarang”, begitu-pun dengan perubahan bukan masalah dulu atau sekarang. Tetapi, sudah sejauh mana dengan kata itu kita memiliki semangat yang hebat untuk melakukan sebuah perubahan.

Coretan liar ini bukan di tujukan untuk membuat sebagian orang atau kelompok merasa tersakiti, akan tetapi sebuah coretan ini ditujukan bagi mereka yang masih menginginkan Muhammadiyah ada pada “syirat” yang “al-mustaqim” buakan pada “ syirat” yang “ ad-zdulmi”. Satu hal lagi, coretan dinding (meminjam salah satu lyric Kang Iwan fals dalam salah satu lagunya) ini bukan untuk menggurui, namun hanya sekedar mengingatkan saja pada mereka tentang salah satu prinsip yang menjadi spirit lembaga ini meyebar dan disebarkan di tengah umat. “amar ma’ruf nahyil munkar”. Ini lah salah satu prinsip yang kami berdo’a mudah-mudahan masih dipegang oleh mereka yang merasa dirinya Muhammadiyah tulen alias asli banget gitcu lhoc. Yang artinya kurang lebih adalah “menyeru (memerintah) pada kebaikan dan mencegah (melarang) kemunkaran (kejelekan/kemaksiatan/ kedoliman).

Alangkah tidak mungkin alias mustahilnya kita mengangkat Pak Harfan atau Bu Mus (Tokoh Kepala dan guru sekolah dalam Laskar Pelangi) sebagi Rektor atau Dekan di kampus ini. Yang mana mereka menjalankan roda birokratis sekolah dengan amat bijak sana dan pengertian pada anak didiknya (Mahasiswa-lah kalau di temapt kita). Kenapa..? Ya, karena-ekarena jangankan memilih Rector atau Dekan…keberadaan mahasiswa-nya saja tidak di anggap. Bagai mana mahasiswa ikut serta dalam memilih atau boleh berpartisipasi memeilih pemimpinnya, “Bapaknya” saja sudah tidak mengakui bahwa dia punya anak…kan lucu alias “TOLDO”. Artinya, mahasiswa jangn mimpi kalau kalian tidak di ikut sertakan memilih dekan, dianggap mahasiswa saja belum tentu alias tidak, nyahoo… Sok mikir atuh sedikit mah, muali dari hal kecil ini saja suara kita sudah gak di dengar, apalagi di ikut sertakan dalam membuat kebijakan, imposible mene atuh euy.

Pemimpin itu bukan sekedar memimpin, tapi harus siap di pimpin. Kalau bapak atau ibu adalah pemimpin kami, maka amanat adalah yang memimpin kalian. Kalu bapak/ibu adalah orang yang beragama, maka berilah kami pemahaman dengan contoh, dengan ucapan dan perbuatan bukan dengan omong kosong dan janji palsu. Kami tidak butuh bualan atau janji-janji, yang kami butuh adalah bukti yang akan membuktikan bahwa kalian pemimpin bukan pembohong bagi kami yang masih menjadi murid mu. Kalau “kalian” sudah tidak mendengar, sipa lagi yang akan mendengarkan kami.

Untuk Dosen dan Dosinah (Mudarris dan mudarrisah), bagi kami kalian bukan hanya sekedar guru tapi pembimbing dan bukan pembentak. Di hati dan lidah-mu kami berharap (lagi lagi di copot dari Liriknya kang Iwan Fals), tolong sampaikan salam kami pada mereka dan lantanglah bicara bahwa kami minta “ikutkan kami dalm memilih pemimpin kami”. Agar kami tidak di pimpin oleh orang yang tidak kami kenal…Dan bagi mahasiswa/mahasiswi mulailah berfikir, kenapa kita tidak di perbolehkan ikut memilih mereka. Padahal merekalah yang akan menjadi pemimpin kita, apa mau kita punya “Bapak” yang tidak kita kenal…dan apa mau kita di “tirikan” di rumah kita sendiri. Terima kasih sudah membaca coretan ini…

By = uEnk si Gondrong

Minggu, 12 April 2009

….Sebagian Telah Kehilangan…

April 10, 009

Sudah jelas aku kesal. Aku kesal bukan karena mereka yang tak mampu membantu ku. Aku hanya kesal karena aku tidak menyadari akan penyesalan yang amat terlambat datang. Terkadang aku ingin menanyakan, adakah penyesalan yang datang lebih awal. Adakah sesal yang datang dengan kata permisi? Mungkin kedatangannya bukan untuk di harapkan. Kalau-pun ia datang, ia bisa kembali, dan dia bisa mampir. Tentuya tidak seorang-pun yang ingin hidup dibawah penyesalan dan pengaruhnya. Dia, mereka, dan begitu juga dengan ku yang tak ingin mengalami hal serupa. Nyata-nyata aku tak ingin meraskan kehilangan yang ketiga kalinya, bukan kedua atau pertama kalinya hal ini terjadi menyeret ku ke jurang yang sama.

Kalau-pun aku ingin marah, siapa gerangan yang hendak ingin aku marahi. Gak ada, tidak ada yang mau, dan juga kenapa aku harus marah pada mereka yang jelas-jelas tidak melakukan kesalahan, jelaas-jelas tidak tahu-menahu dengan prihal kemarahan ku. Tapi, aku tetap kesal dan sedikit marah dengan keadaan ini, dengan kenyataan yang sulit di hadapi ini. Aku butuh sesuatu yang bisa meredam semua kekesalan dan kemarahan ku yang sungguh-sungguh tidak jelas ini. Aku butuh…, jelasnya aku hanya butuh semua itu bisa kembali dan aku milikinya kembali. Itu saja…!!!

Di sana mungkin ada banyank orang yang kehilangan, dan juga mereka yang kehilangan karena di tinggalkan atau kehilangan karena mereka menjadi meras sendiri dan sebatang kara menjalani dan meengkhayalkan hidup dalam sebuah pengasingan. Aku menjadi teringat dengan sosok sahabat ku yang kini di asingkan dari bilik keramainnya. Yang ku ingat hanya sepenggal kata-katanya yang membuat ku tetap diam di jalan yang semasa waktu bersamanya sama-sama ku jalani.

Jangan pernah berhenti untuk tetap protes pada mereka yang cuma bisa bicara janji tanpa bukti. Teruslah bicara, walau-pun kini aku ditempatkan dalam jeruji besi yang melingkari gerak dan langkah kebebasan ku”.

Aku percaya dia, dan aku percaya padanya, karena dia tidak hanya bicara tapi ia buktikan apa yang dia bicarakan. Satu lagi yang kudengar dari pembicaraannya :

Kawan…( dengan tegas tangan kirinya mengepal di depan kami) jangan pernah kau turunkan kepalan tangan mu. Tinjukan-lah terus ke atas langit, hingga mereka mengerti tidak cuma mendengar, hingga mereka tahu dan tidak hanya sekedar melihat. Mreka harus terus di didik, tapi bukan sebagai murid melainkan sebagai penanggung amanat”.

Namun sayang, kini aku hanya bisa membayangkan dan menerka-nerka. Sedang apa dia sahabat ku disana, disana di dalam jeruji besi yang sedikit-pun tak punya kelayakan untuk di tempati oleh dia sahabat- ku itu. Apa ketika dia makan, dia mersakan asinnya garam dalam makanan itu..? Apa ketika dia minum, dia merasakan hausnya hilang dengan air yang ia teguk..? Apa ketika dia menyalakan sebatang rokok, di menghembuskan asap rokonya dengan penuh kenikmatan..? Apakah ketika ia tidur, ia merasakan kehangatan dari tempat tidurnya..? Dan apakah ketika ia bangun, ia bisa merasakan hangatnya mentari ketika sinarnya menyentuh kulit lembabnya..? Aku sunguh tidak bisa tepat membayangkannya. Dan yang ingin aku tahu, apa yang ia lakukan ketika menjalani hidup dari satu pagi ke pagi yang lain, dari satu siang ke siang yang lain, dan dari satu malam ke malam yang lainnya. Yang ia mampu hanya memandangi jeruji berkarat yang kini sudah menjadi hal yang biasa di matanya.

Oh…kawan, ketika malam mu yang dingin, aku pun membayangkan dingin tembok yang kau jadikan alas untuk tidur mu itu dalam pikiran ku. Ketiaka nasi cadong-mu kau makan, aku bisa membayangkan apalah rasanya nasi itu di pikiran ku. Kau memang kuat, dan kau memang tangguh kawan, belum tentu jika aku akan sekuat diri mu ketika aku mengalami hal yang sama dengan mu. Aku amat merindukan mu. Kami amat merindukan mu pulang dan keluar dri jeruji karatan itu. Di sini ada sedikit bingkisa buat mu saat kau pulang. Kami sudah menyimpan lama senyum pilu penuh kebahagiaan ini untuk mejemput kedatangan mu kelak. We are waiting here for you brother…*

Malam-malam seperti ini apalah yang kau lakukan di dalam sana dengan tetangga-teangga senasib mu. Dan apa gerangan yang mereka lakukan. Adakah mereka hanya duduk, diam, dan melamunkan apa yang sekiranya akan mereka lakukan ketika mereka lepas dari jeratan lingkaran besi berkarat itu.

Kawan…ada kalanya aku ingin bertanya, dan menanyakan sesuatu padamu. Tentang satu hal yang menjadi pertanyaan penting yang ingin aku ketahui dari mu. Adakah penyesalan yang tersirat dan melintas di benak mu, perihal kejadian yang menjadikan kau mendekam di gudang tikus itu. Apa kau menyesal telah melakukan hal yang itu berakibat kau mendekam di sana. Dan apakah aku pantas, atau salah menanyakan ini pada mu…? Aku.., aku hanya ingin melihat, dan aku… hanya ingin mendengar kau bicara. Itu saja…!!!

Kembali aku hanya bisa berharap, semoga saja apa yang telah mereka ukir, mereka torehkan, dan kau jalani jalan ini bisa menjadikan ku lebih kuat dan gigih dalm menyerukan protes-protes keras pada mereka yang hingga kini masih buta dengan apa itu amanat, buta dengan apa itu kemiskinan, buta dengan apa itu kesejahteraan, buta dengan apa itu rakyat, dan buta dengan apa itu “demokrasi” (kalau perlu).

Kawan…Mungkin sudah waktunya bagi kita untuk mengingatkan mereka akan sejarah bangsa ini di masa lalu, mungkin sudah waktunya mereka tahu apa sebenarnya yang di perjuangkan oleh para pahlawan kita dulu. Bukan berarti kita sok tahu, dan bukan pula kita sok mengerti, tapi setidaknya kita bisa memberikan apa yang kita tahu pada mereka yang belum tahu. Dan bagi mereka yang tahu, kita bisa mengajaknya untuk turut serta membangun dan menuntaskan “demokrasi” kerakyatan yang masih pincang dan prematur ini. Agar bangsa kita tidak selalu di bilang bangsa yang tidur, dan bangsa yang senag minta sana dan minta sini.*

Kutarik nafas sejenak, dalam-dalam ku hirup udara semampuku. Kembali ku hempaskan dengan penuh dan sedikit dorongan ke hampaaan. Lemas dan sedikit geram ketika mengingat dan membayangkan mu. Dengan muka lemas dan lembab berminyak, aku meluruskan kedua tangan melenturkan otot-otot di kaki ku yang sudah sedikit kejang akibat terlalu lama duduk dan membayangkan apa yang ada di pikiran ku.

Ku tarik kembali udara di sekitar ku lewat lubang hidung ku yang masih normal ini. Kuhempaskan perlahan dan sedikit bersuara..hah...hahh. Ku sandarkan kepala ku di antara tiang-tiang yang menyangga kursi bambu. Ku lihat daun-daun berjatuhan di terpa angin sore hari yang sudah mulai mendingin dan sejuk penuh kedamaian. Seakan mereka ingin menyampaikan pesan padaku tentang hidup yang tidak akan bertahan lama. Hidup yang singkat, dan umur yang amat misterius serta waktu yang amat keras kepala. Keras melebihi batu yang tak kenal kompromi apalagi bisa tawar menawar. Sedetik yang kuminta untuk kembali, itu-pun tak bisa dan tak mungkin. Begitu-pun dengan apa yang kupinta tolong waktu di ulang agar aku tidak ceroboh dengan waktu. Yang itu mengakibatkan sesuatu yang penting dalam hidup ku tidak kembali hilang. Sayang seribu sayang, yang hilang tetap hilang dan sedikit sekali keajaiban yang mungkin datang untuk mengembalikannya. Itu pun kalau Dia- menghendakinya.

Sekali lagi, memang penyesalan tak pernah datang di kemudian hari. Terlambat dan ‘selalu’ datangnya terlambat. My be, it’s me. Always come to late….!!!@@@